Setiap hari kita menemukan kutipan "hadis" berseliweran di media sosial. Sebagian sahih, sebagian lemah, sebagian bahkan bukan hadis. Bagaimana cara membedakannya? Dua hal yang membantu: mengenali sumbernya dan memahami derajatnya.
Tujuh kitab yang sering jadi rujukan
Para ulama menghimpun hadis ke dalam kitab-kitab yang disusun dengan sangat teliti. Yang paling masyhur adalah Kutubus Sittah (enam kitab induk):
- Sahih Bukhari dan Sahih Muslim — dikenal sebagai Sahihain, dua kitab dengan standar keautentikan paling ketat.
- Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa'i, dan Sunan Ibnu Majah — memuat beragam hadis, dari yang sahih hingga yang dinilai lemah, biasanya disertai catatan penilaian.
Sering ditambahkan pula Muwatta Imam Malik, salah satu himpunan hadis paling awal. Ketujuhnya menjadi rujukan utama umat sampai hari ini.
Satu catatan penting: berbeda dengan Sahihain, kitab-kitab Sunan tidak menjamin seluruh isinya sahih. Karena itu, penilaian per hadis menjadi penting.
Arti sahih, hasan, dan daif
"Derajat" hadis adalah penilaian para ahli hadis terhadap kualitas sanad (rantai perawi) dan matan (teksnya). Secara sederhana:
- Sahih — memenuhi syarat tertinggi: sanadnya bersambung, para perawinya adil dan kuat hafalannya, serta tidak ada cacat tersembunyi.
- Hasan — sedikit di bawah sahih, umumnya karena hafalan salah satu perawinya tidak sekuat perawi hadis sahih. Tetap tergolong dapat diterima.
- Daif (lemah) — tidak memenuhi salah satu syarat di atas, misalnya ada perawi yang lemah atau sanad yang terputus.
Ada pula istilah lain seperti maudu' (palsu), tetapi tiga di ataslah yang paling sering kamu jumpai.
Siapa yang menilai derajatnya?
Ini bagian yang sering terlewat: penilaian derajat adalah kerja para ulama ahli hadis, bukan sesuatu yang kita simpulkan sendiri dari membaca teksnya. Nama-nama seperti Imam Bukhari, at-Tirmidzi, hingga ulama kontemporer telah menilai jutaan riwayat dengan metode yang cermat.
Maka sikap yang tepat adalah merujuk pada penilaian mereka — dan menyebutkan sumbernya. Sebuah label "sahih" tanpa rujukan sama saja dengan klaim tanpa bukti.
Sebelum menyebarkan sebuah hadis
- Cek sumbernya — dari kitab apa, nomor berapa.
- Cek derajatnya — dan siapa yang menilainya.
- Untuk pengamalan, utamakan hadis sahih; dan untuk perkara yang serius, rujuklah ulama serta kitab syarah tepercaya. Tulisan ini panduan pengantar, bukan pengganti bimbingan mereka.
Satu hadis sahih setiap hari
Membangun kebiasaan yang baik tidak harus dimulai dari banyak hal sekaligus — cukup satu hadis sahih untuk direnungkan setiap hari.
One Hadith A Day menyajikannya untukmu: satu hadis pilihan setiap hari, lengkap dengan terjemahan, penjelasan, dan faedahnya — selalu disertai sumber dan derajatnya dari tujuh kitab tepercaya, dinukil apa adanya dengan mencantumkan penilai aslinya.