Kamu mungkin sudah sering melihatnya: sebuah kutipan yang enak didengar disebarkan sebagai "hadis", lalu ribuan orang mengulanginya sebelum ada yang bertanya apakah Nabi SAW benar-benar mengatakannya. Sebagian kutipan itu sahih. Sebagian lemah. Dan sebagian lagi memang hanya karangan. Mengetahui cara membedakannya adalah salah satu keterampilan paling berguna yang bisa dimiliki seorang Muslim — dan kamu tidak perlu menjadi ulama untuk memahami dasar-dasarnya.
Berikut cara hadis dinilai derajatnya, dan bagaimana kamu bisa memeriksa sebuah riwayat sebelum ikut menyebarkannya.
Apa sebenarnya arti "sahih"
Hadis tidak dipilah secara sederhana menjadi benar atau salah. Para ahli hadis menilai setiap riwayat pada sebuah tingkatan, berdasarkan seberapa tepercaya rantai perawinya dan apakah teksnya bisa dipertanggungjawabkan. Empat istilah yang paling sering kamu jumpai adalah:
- Sahih. Derajat tertinggi. Sanadnya bersambung dan setiap perawinya tepercaya serta cermat. Lihat apa yang membuat sebuah hadis sahih.
- Hasan (baik). Dapat diterima dan bisa dijadikan dalil, tetapi salah satu mata rantai sanadnya sedikit kurang kuat dibanding riwayat sahih. Selengkapnya tentang derajat hasan.
- Daif (lemah). Ada yang kurang pada sanad atau teksnya — perawi yang hilang, perawi yang lemah, atau cacat tersembunyi. Baca mengapa sebuah hadis disebut daif.
- Maudu' (palsu). Sama sekali bukan hadis, melainkan perkataan yang dinisbatkan secara dusta kepada Nabi SAW. Riwayat seperti ini tidak boleh disebarkan, bahkan sebagai "pengingat yang bagus". Lihat apa itu hadis palsu.
Kalau kamu ingin gambaran utuhnya dalam satu tempat, ringkasan derajat hadis menjelaskan setiap tingkatan beserta istilah-istilah di antaranya.
Bagaimana ulama menilai sebuah hadis
Setiap hadis memiliki dua bagian: sanad (rantai orang-orang yang meriwayatkannya) dan matan (teks aslinya). Ulama meneliti keduanya.
Untuk sanadnya, mereka menelaah apakah rantainya bersambung dan apakah setiap perawinya dikenal jujur serta cermat. Ada seluruh perpustakaan biografi yang disusun justru untuk hal ini — mencatat siapa yang tepercaya, siapa yang pelupa, dan siapa yang pernah dituduh berdusta. Untuk teksnya, mereka memeriksa apakah ia bertentangan dengan Al-Qur'an, hadis sahih yang sudah mapan, atau nalar yang jernih — pemeriksaan yang bisa menyingkap riwayat yang terdistorsi oleh hafalan yang goyah.
Ini pekerjaan yang cermat dan menuntut keahlian khusus. Itu pula sebabnya kamu sebaiknya bersandar pada penilaian yang sudah diterbitkan, bukan mencoba menilai sendiri sebuah riwayat.
Cara memeriksa hadis dalam praktik
Kamu tidak perlu mengulang kerja keilmuan berabad-abad. Kamu hanya perlu menemukan di mana sebuah riwayat sudah dinilai. Sebuah rutinitas sederhana:
- Temukan rujukannya. Hadis yang benar bisa dilacak ke kitab tertentu — Sahih Bukhari, Sahih Muslim, salah satu dari empat Sunan, dan seterusnya — biasanya dengan nomor. "Katanya Nabi bersabda…" tanpa sumber itu sendiri sudah menjadi tanda bahaya.
- Perhatikan di kitab mana ia berada. Hadis dalam Sahih Bukhari atau Sahih Muslim sahih karena keberadaannya di situ; kedua kitab itu berkomitmen pada keautentikan. Kitab-kitab Sunan memuat beragam derajat, sehingga sebuah riwayat di sana memerlukan penilaian tersendiri.
- Cari derajatnya, lengkap dengan penilainya. Untuk kitab-kitab di luar dua Sahih, carilah penilaian dari ulama yang disebut namanya (misalnya al-Albani atau Syu'aib al-Arna'uth). Sebuah label derajat tanpa sumber di baliknya hanyalah klaim.
- Kalau ragu, jangan menisbatkannya. Jika kamu tidak menemukan penilaiannya, sikap yang jujur adalah berhenti sebelum mengatakan "Nabi SAW bersabda", bukan menebak-nebak.
Tanda-tanda bahaya hadis palsu
Sebagian riwayat mengibarkan tanda peringatannya sendiri. Berhati-hatilah ekstra ketika sebuah "hadis" menjanjikan pahala yang sangat besar untuk amal yang sangat kecil, mengancam dengan hukuman yang sangat tidak sebanding, terbaca seperti slogan alih-alih sabda Nabi SAW, atau mematok angka-angka yang pasti pada perkara yang dibiarkan terbuka oleh Al-Qur'an. Tidak satu pun dari tanda ini yang dengan sendirinya membuktikan sebuah riwayat itu palsu, tetapi bila digabungkan, semuanya menjadi isyarat kuat untuk memeriksa sumbernya sebelum menyebarkan.
Sepatah kata yang adil tentang hadis lemah
Lemah tidak otomatis berarti palsu. Sebuah riwayat daif bisa saja benar; ia hanya belum memenuhi standar untuk dijadikan sandaran. Para ulama berbeda pendapat soal mengamalkan hadis lemah untuk menganjurkan amal kebaikan dengan syarat-syarat yang ketat, tetapi ada kesepakatan yang luas bahwa hadis lemah tidak pernah menjadi dasar bagi perkara halal dan haram, maupun bagi persoalan akidah. Ketika taruhannya besar, hanya dalil yang sahih yang punya bobot.
Biarkan sumbernya yang menilai
Kebiasaan yang paling aman sekaligus paling rendah hati adalah membaca hadis dari sumber yang sudah menampilkan derajatnya dan siapa yang menilainya — bukan menilai sendiri atau memercayai sekadar tangkapan layar. Ketika sebuah hadis datang bersama penjelasan, faedah, rujukan, dan derajatnya — dengan menyebut penilainya, bukan menebaknya — kamu bisa mengamalkannya dengan tenang dan membagikannya tanpa ikut menyebarkan sesuatu yang kelak kamu sesali.