ISTILAH HADITH
مصطلح الحديث
muṣṭalaḥ al-ḥadīth
Penilaian ulama tentang seberapa kuat jalur periwayatan sebuah hadith — bukan tentang isinya.
Setiap hadith sampai kepada kita melalui rantai orang yang meriwayatkannya, satu ke yang lain, selama berabad-abad. Ilmu hadith bekerja dengan memeriksa rantai itu: apakah sambung tanpa putus, dan apakah setiap orang di dalamnya jujur sekaligus kuat hafalannya.
Karena itu, derajat sebenarnya melekat pada JALUR periwayatan, bukan pada teksnya. Imam an-Nawawi menegaskan: jika engkau melihat hadith dengan sanad yang lemah, katakanlah "ia lemah melalui sanad ini" — jangan katakan teksnya lemah hanya karena satu sanad itu lemah, kecuali seorang imam menyatakan hadith itu tidak diriwayatkan melalui jalur yang sahih sama sekali.
Ada dua pertanyaan berbeda yang sering tertukar. "Seberapa kuat?" dijawab dengan sahih, hasan, daif, maudu'. "Disandarkan kepada siapa?" dijawab dengan marfu' (Nabi), mauquf (Sahabat), maqtu' (Tabi'in). Sebuah riwayat bisa mauquf sekaligus sahih — keduanya bukan lawan kata.
Aplikasi ini tidak pernah menilai sendiri. Yang ditampilkan hanyalah penilaian yang sudah diterbitkan orang lain, lengkap dengan siapa yang menilainya.
Kedudukan Sahih Bukhari dan Sahih Muslim sendiri diperdebatkan. Ibnu ash-Shalah berpendapat hadith di dalam keduanya memberi ilmu yang pasti (qath'i). An-Nawawi mencatat bahwa para muhaqqiq dan mayoritas ulama justru menyelisihinya: menurut mereka ia memberi zhann (dugaan kuat), bukan kepastian, selama tidak mutawatir. Perlu dicatat pula bahwa penilaian itu berlaku bagi riwayat yang bersanad sambung di dalamnya — bukan setiap baris kitab — dan tidak adanya sebuah hadith dalam kedua kitab itu tidak berarti apa-apa, sebab keduanya memang tidak bermaksud memuat seluruh hadith sahih.