ISTILAH HADITH
حسن
ḥasan
Satu tingkat di bawah sahih — sanadnya baik dan perawinya jujur, hanya saja hafalan salah seorangnya sedikit lebih ringan. Tetap menjadi hujjah.
Hasan memenuhi semua syarat sahih kecuali satu: ketelitian hafalan (dhabth) seorang perawi lebih ringan, bukan sempurna. Ibnu Hajar merumuskannya sesingkat mungkin — "jika hafalannya ringan" (fa-in khaffa adh-dhabth).
Ini bukan kategori "meragukan". An-Nawawi menyatakan: "Hasan itu seperti sahih dalam hal dijadikan hujjah, meskipun di bawahnya dalam kekuatan; karena itulah sekelompok ulama memasukkannya ke dalam jenis sahih."
Dua catatan praktis. Pertama, "hasan al-isnad" tidak sama dengan "hasan" — sanad bisa baik sementara matannya bermasalah karena syadz atau 'illah. Kedua, istilah at-Tirmidzi "hasan sahih" bukan derajat gabungan; Ibnu ash-Shalah dan an-Nawawi menjelaskannya sebagai hadith yang datang melalui dua jalur, satu memenuhi syarat sahih dan satu lagi hasan.
Inilah derajat yang definisinya paling diperselisihkan. Al-Khaththabi, at-Tirmidzi, dan Ibnu ash-Shalah memberikan batasan yang berbeda-beda, dan rumusan dua bagian milik Ibnu ash-Shalah sendiri merupakan usaha mendamaikan pemakaian ulama terdahulu yang tidak seragam — bukan laporan tentang ijmak. Rumusan Ibnu Hajar yang lebih rapi pun tidak selalu cocok dengan pemakaian klasik.