ISTILAH HADITH

Hadith Daif

ضعيف

ḍaʿīf

Jalur periwayatannya bermasalah — ada keterputusan, atau ada perawi yang diragukan. Artinya "belum terverifikasi", bukan "terbukti palsu".

Daif adalah kategori sisa: setiap hadith yang tidak memenuhi syarat sahih maupun hasan. Ibnu ash-Shalah merumuskannya persis begitu — "setiap hadith yang padanya tidak terkumpul sifat hadith sahih dan tidak pula sifat hadith hasan".

Yang perlu ditegaskan: daif itu bukan satu derajat, melainkan rentang yang sangat lebar. An-Nawawi menyatakan "kelemahannya bertingkat-tingkat sebagaimana kesahihan pun bertingkat-tingkat". Hadith yang lemah karena hafalan seorang perawi biasa-biasa saja, dan hadith yang lemah karena perawinya pendusta, sama-sama disebut daif pada tingkat kasarnya.

Karena itu daif melaporkan kegagalan VERIFIKASI, bukan temuan kebohongan. Ibnu ash-Shalah membedakan riwayat daif dari yang palsu justru dengan alasan bahwa yang daif masih mungkin benar pada kenyataannya.

Ulama berbeda pendapat

An-Nawawi menyebutkan bahwa ahli hadith dan selain mereka membolehkan sikap longgar dalam periwayatan hadith daif — selain yang maudu' — dan mengamalkannya dalam hal seperti kisah, fadhilah amal, dan nasihat, yaitu perkara yang tidak berkaitan dengan akidah dan hukum halal-haram. Namun izin ini dibatasi ketat oleh penyokongnya sendiri, dan sebagian ulama menolaknya sama sekali (Abu Bakar Ibnul 'Arabi disebut melarang pengamalan hadith daif secara mutlak). An-Nawawi juga mensyaratkan cara penyebutan: hadith daif tidak boleh disampaikan dengan lafal pasti "Rasulullah ﷺ bersabda", melainkan "diriwayatkan bahwa..." atau "telah sampai kepada kami...".

Sumber

Istilah terkait

Baca satu hadits setiap hari di onehadithaday.com →