ISTILAH HADITH
مرسل
mursal
Seorang Tabi'in langsung menyandarkan sabda kepada Nabi ﷺ tanpa menyebut Sahabat yang mendengarnya. Ada mata rantai yang hilang namanya.
Seorang Tabi'in berkata "Rasulullah ﷺ bersabda..." tanpa menyebutkan dari Sahabat mana ia menerimanya. Karena mata rantai yang hilang itu tidak disebut namanya, keadaannya tidak bisa dinilai sama sekali.
Ibnu ash-Shalah membatasi istilah ini pada Tabi'in senior yang berjumpa dan duduk bersama para Sahabat. Ibnu Hajar mendefinisikannya secara struktural: yang gugur dari ujung sanad, sesudah Tabi'in.
Para ulama benar-benar terbelah dalam hal ini. An-Nawawi mencatat: mursal adalah hadith daif menurut mayoritas ahli hadith, asy-Syafi'i, dan banyak fuqaha serta ahli ushul — sementara Malik dan Abu Hanifah beserta sekelompok ulama menyatakannya sahih. Ibnu ash-Shalah mengutip Muslim dalam mukadimah Sahih-nya bahwa mursal bukanlah hujjah. Asy-Syafi'i sendiri menerimanya bila didukung jalur lain. Perlu dibedakan pula mursal ash-shahabi (Sahabat meriwayatkan peristiwa yang tidak ia saksikan sendiri), yang menurut pendapat yang sahih dihukumi sahih.